fikiran sibocah masih berlarian, berhamburan, kesana kemari tanpa arah, meski alam sudah mengisayaratkan kemegahannya, meski orang lain sudah menemukan apa yang dicarinya dan membentangkan pelajaran-pelajaran dari halnya.
sibocah sudah melewati bagai mana asyiknya mengungkapkan isi hati tanpa batas, menabrak, melumatkan keyakinannya, berbicara seperti orang terbenar dalam kebenaran, tepatnya kebenaran yg di anggapnya
pernah dia (si bocah) menabrak karang, karang tak becah dia terpesona kekuatan itu, kecerdikan, keikhlasan, kebesaran, kerendahan dan sikap kona'ah darinya
dilain waktu si bocah mencari cari cermin dan berkaca, dan menyaksikan apa yang ada didalamnya, tubuhnya kurus hitam, kata-katanya yang dulu sangant tak bermutu dan hanya sebagian kecil yang benar, hingga seakan-akan dia takut dengan kesalahan yang diperbuat dan takut berbuat salah lagi...
duhai malam, mewujudlah menjadi gelora/
setiamu mendapingiku dalam kisruh gelap/
aku tatap bulan dan bintang yang bergelayut digelapnya lelangitanmu duhai malam
gelapmu yang gulita menambah cahaya yg ada menjadi berlebih...
aaaah jangan pasang awan yang berteman dengan hujan, karna tentu tak ada pelangi dimalammu
sisakan gerimis untuk siang, dan serahkan pada matahari biar dia ciptakan pelangi...
malam, kau sahabat tidurku dan karib dari mimpi
penguasa malam berikan aku tidur dan bangunkan diwaktu embun menyambangi pagi..
syukurku kutitipkan pada setiap malam yang ku lalui...
jogjakarta 131113
Tidak ada komentar:
Posting Komentar